Kategori
Berita kisah alumni Pusat

Dua Santri Indonesia Akan Menjadi Imam Taraweh Di New York

Seiring meningkatnya jumlah muslim Amerika, kebutuhan akan imam masjid makin terasa dibutuhkan. Saat ini, meski belum ada data pasti, diperkirakan ada enam sampai sembilan juta  kaum muslim di Amerika.
Penelitian yang dilakukan pada tahun 2011 menunjukkan hanya ada 44 Imam di Amerika yang menjadi imam penuh dan mendapatkan gaji rutin. Kebutuhan akan imam masjid terasa saat datangnya bulan ramadan. Kebutuhan akan imam untuk memimpin shalat taraweh sering membuat pengelola masjid mendatangkan relawan dari negara lain.
Relawan yang didatangkan biasanya para santri penghafal Al-Qur’an. Santri-santri dari Indonesia sering mendapatkan panggilan untuk menjadi relawan memimpin shalat taraweh atau lainnya. Tahun ini dua santri asal Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an terpilih untuk memimpin shalat taraweh di New York.
“Sewaktu ustadz Yusuf Mansur berkunjung ke Amerika Serikat ada permintaan dari komunitas muslim disana untuk mengirimkan santri yang akan bertugas menjadi imam saat shalat taraweh nanti. Alhamdulillah, dua santri kami akan segera berangkat dan saat ini sedang dalam pengurusan dokumentasi pelengkap” ujar ustadz Slamet Ibnu Syam, pengasuh Ponpes Daarul Qur’an.
Keberangkatan kedua santri ke New York ini juga tidak lepas dari peran Ustadz Muhammad Shamsi Ali. Beliau merupakan warga negara Indonesia yang telah menetap selama 18 tahun di New York. Ayah lima anak ini merupakan imam dan Ketua Yayasan Masjid Al-Hikmah, yang didirikan muslim Indonesia di Astoria. Selain itu ia juga tercatat sebagai Direktur Jamaica Muslim Center di Queens.
Afif Okjil dan Syafril Mude dua santri yang baru saja menjalani wisuda kelulusan  yang akan berangkat ke Amerika Serikat. keduanya terpilih selain memiliki hafalan 30 juz juga dianggap sebagai dua santri terbaik.
“Setelah melihat kualifikasi yang dibutuhkan, kedua santri ini kami anggap sanggup untuk menjalankan tugas ini” ujar ustadz Slamet.
Ia menambahkan ini bukanlah yang pertama para santri Daarul Qur’an dipinta untuk menjadi imam di luar negeri. Sebelumnya ada santri yang dikirim ke Malaysia dan Jepang.
“Setiap tahunnya selalu ada permintaan dari komunitas muslim di luar negeri” tambahnya.
Afif pun sempat terkejut saat namanya diberitahu akan diberangkatkan ke Amerika. Ia mengaku akan menjalankan kepercayaan ini dengan baik.
“Awalnya sempat tidak percaya dengan penunjukan ini. Namun, kini saya dan Syafril tengah menyiapkan mental dan terus mengulang hafalan agar bisa menjalankan tugas ini dengan baik” ujar Afif.
Meski mengaku tidak ada persiapan khusus keduanya kini tengah belajar bahasa Inggris dari buku-buku yang ada.
“Sebagai bekal komunikasi disana” ujar Afif sambil tersenyum